Proses Kerja CSS Design

Posted on July 28th, 2009 by Rio

Setelah memahami ruang lingkup pekerjaan CSS Design, maka kali ini kita akan menelusuri proses development sebuah website yang dimulai dari Menslicing dan Optimalisasi image, Menginspeksi Struktur Layout dan Snippets, Membuat Style untuk Layout dan Struktur Konten, Spesifik Styling, Usability Testing, SEO, Cross Browsing hingga Templating.

Slicing dan Optimalisasi Image

Desain mockup dari sang Desainer Grafis akan kita potong-potong sesuai kebutuhan dan mengkompresinya menjadi 72-85 dpi dengan format (png, jpg atau gif) disesuaikan dengan kebutuhan. Apabila memungkinkan diterapkan Image Sprite maka penentuan ukuran serta positioning menjadi satu buah image diperlukan sehingga memudahkan pengaturan posisi melalui CSS.

Struktur Layout dan Snippets

Dalam membuat struktur layout kita dapat dibantu dengan Wireframe yang sebelumnya dibuat oleh sang Desainer Grafis dalam pembuatan mockup desain. Melalui wireframe ini kita dapat menentukan layout yang akan kita buat dan menentukan elemen-elemen apa saja yang memiliki kesamaan bentuk di setiap halaman yang kemudian akan kita jadikan Snippet.

Styling Layout dan Konten

Layout merupakan struktur yang membungkus konten. Dalam menstyling struktur layout sangat disarankan untuk tidak mempengaruhi styling konten sehingga tidak terjadi overiding style. Dengan demikian styling konten hanya mempengaruhi formatting konten dan tidak mempengaruhi styling layout, begitu juga sebaliknya.

Spesifik Styling

Di sini kita akan mengatur styling Snippet dan menambahkan styling sesuai penempatannya dalam layout. Sehingga ketika terjadi perubahan posisi snippet maka penambahan styling menjadi lebih minimal.

Usability Testing

Sebuah website dapat diakses melalui browser, handphone, PSP,  TV dan media lainnya sehingga dibutuhkan sebuah fitur yang dapat mempermudah akses ke website yang kita buat.

SEO

Untuk dapat mudah terindex oleh mesin pencari seperti Google, Yahoo, Bing dan mesin pencari lainnya maka dibutuhkan trik Search Engine Optimization sehingga website yang telah kita buat dapat dicari dengan mudah.

Crossbrowsing

Istilah Cross Browser sebenarnya tidak diperlukan karena adanya perbedaan layout engine di tiap browser bahkan sistem operasi sehingga istilah yang lebih tepat adalah Multi-Browser. Seperti yang kita pahami bersama, dalam fase ini kita akan memastikan tampilan website yang telah kita buat memiliki kesamaan tampilan. Dengan memahami kekurangan yang dimiliki browser-browser versi lama maka kita paham browser tersebut akan mengalami degradasi fitur. Sehingga pada awal styling kita harus menerapkan styling yang mensupport browser lama terlebih dulu baru kemudian menambahkan fitur yang didukung oleh browser terbaru, maka user tidak harus mengupgrade browsernya terlebih dulu untuk dapat melihat website kita.

Templating

Dengan menguasai fase-fase sebelumnya maka kita akan dengan mudah menerapkan sistem templating yang didukung oleh berbagai macam CMS yang ada seperti WordPress, Joomla, FrogCMS, WHMCS, bahkan PHP Framework seperti Code Igniter, CakePHP, Smarty, Zend Framework, dll.

Dalam lain kesempatan, Rio akan membahas masing-masing bagian di atas secara lebih detail. Buat teman-teman yang belum paham dengan istilah-istilah yang terdapat dalam tulisan ini bisa bertanya langsung.

Pengertian CSS Design dan kaitannya dengan Web Design

Posted on July 9th, 2009 by Rio

Sebelum kita bermain lebih seru dengan CSS, ada baiknya kita samakan persepsi tentang pengertian CSS Design. CSS Design merupakan bagian dari Web Design. Seperti yang kita pahami selama ini, Web Designer memiliki kriteria keahlian antara lain:

  1. Memahami konsep Graphic Design
  2. Memahami perbedaan antara Web Design dengan Print Design
  3. Mampu mengkonversi desain dari media desktop ke media web

Nah! CSS Designer memiliki kriteria keahlian spesifik ke poin 3 saja dengan terlebih dulu harus memahami konsep 1 dan 2. Konversi yang dimaksud dalam poin 3 adalah membuat desain yang dapat kita akses di desktop menjadi dapat diakses di web. Karena media desktop dan media web berbeda maka diperlukan konversi sehingga media desktop dapat berjalan di media web.

Media Desktop VS Media Web

Seperti yang kita ketahui bersama, media desktop dapat berjalan melalui Operating System seperti Windows, Mac, atau Linux sedangkan media web dapat berjalan melalui Browser seperti Firefox, Safari, Internet Explorer atau Opera. Sehingga jika kita ingin mengakses media desktop seperti teks, gambar, audio, animasi, dll. melalui browser maka kita perlu mengkonversi atau lebih tepatnya membungkus media desktop tersebut menjadi sebuah halaman web yang dapat diakses melalui browser.

Jadi halaman web yang sedang kita lihat ini merupakan media desktop yang dibungkus oleh HTML dan diatur styling-nya oleh CSS. Dengan kata lain kita memerlukan bantuan HTML dan CSS dalam menampilkan media desktop sehingga dapat diakses melalui media web dengan alat bantu browser untuk dapat dilihat oleh seluruh dunia melalui internet.

Proses Kerja CSS Designer

Dalam mengkonversi desain dari media desktop ke media web, seorang CSS Designer harus menjalani dua proses kerja yang harus dilalui agar sebuah halaman web dapat diakses. Proses kerja tersebut melibatkan dua pekerjaan yang berbeda yaitu designing dan programming. Sehingga jika dijabarkan maka proses kerja seorang CSS Designer terdiri dari:

  1. Menerima design media desktop dari designer berupa mockup
  2. Mengoptimasi mockup dengan cara men-slicing-nya sehingga memenuhi standar untuk ditampilkan di web
  3. Menata kembali sliced images, teks dan media desktop lainnya sesuai tampilan mockup dengan bantuan CSS melalui HTML

bersambung… :D

Kesalahan Slicing Image buat Web

Posted on July 1st, 2009 by Rio

Tidak selamanya slicing dengan ukuran kecil bisa membuat halaman web lebih cepat diakses, kita juga perlu memperhatikan banyaknya image yg di-slice dalam satu halaman. Jadi meski slice image-nya kecil namun jika banyak jumlah image-nya maka jumlah request ke server otomatis menjadi lebih banyak sehingga mempengaruhi performa juga.

Load fewer external objects. Due to request overhead, one bigger file just loads faster than two smaller ones half its size. Figure out how to globally reference the same one or two javascript files and one or two external stylesheets instead of many; if you have more, try preprocessing them when you publish them. If your UI uses dozens of tiny GIFs all over the place, consider switching to a much cleaner CSS-based design which probably won’t need so many images. Or load all of your common UI images in one request using a technique called “CSS sprites“.

Sumber: http://www.die.net/musings/page_load_time/